WALETSEMBERANI BOJONEGORO GRUP

jasa budidaya walet

waletsemberani bojonegoro grup

waletsemberani part1.mpg

3 menit – 20 Mei 2011 – Diunggah oleh vidmolcin
bukti nyata demo semberani panggil RF(raden fatah)1 TRIMS buat THE TEAM SEMBERANI inovasi tiada henti vid mol cin
http://www.youtube.com/watch?v=Ww–NRQrfVI

audio walet semberani

“www.cdwaletsemberani.com” Sayangnya prospek pasar yang sangat bagus dan semakin cerah ini tidak diimbangi dengan pengelolaan yang benar dalam budidaya wallet. Produksi sarang walet Indonesia dalam beberapa item, misalnya ketebalan sarang, bentuk sarang dan warna sarang kualitasnya masih kurang bila dibandingkan dengan Malaysia dan Vietnam. Ini disebabkan teknis pengelolaan budidaya wallet yang masih tradisional.Kasus yang umum terjadi pemilik gedung engan membersihkan gedungnya dan membiarkan kotoran wallet bertumpuk hingga tebalnya mencapai 30 cm. Hal ini jelas menyebabkan warna sarang menjadi kuning atau kecoklatan. Masuk akalkah bila produk untuk kesehatan diproduksi dari gedung yang kotor. Pengelolaan tradisional juga akan mengakibatkan produksi sarang wallet sebuah gedung bias menyusut dari tahun ke tahun. Kasus ini sering terjadi di propinsi bangka belitung , lampung, Kalimantan Barat, , Jambi, Hargeulis, Cilamaya, Lasen, Pasuruan. Mengapa penyusutan produksi sarang burung wallet terjadi? Kemana burung pergi? “cdwaletaudio” Jawabanya : wallet berpindah ke gedung lain yang kondisi iklim mikro dalam gedung lebih kondunsif, serta pengeloaan gedung yang professional. Gedung yang dikelola secara benar, produksi waletnya cepat berkembang dan dengan demikian produksi sarangnya terus meningkat. Kasus migrasi wallet terjadi dari gedung yang kurang terawat ke gedung lain yang terawat dengan baik….!!!

suara Walet, qualitas sangat bagus menjadi pemikat walet jitu
KIAT PEMANGILAN WALET DENGAN CD WALET
PROSPEK BISNIS WALET YANG TERUS MENGELIAT
Budidaya burung walet belakangan ini terlihat makin marak dan mengejala. Hampir di berbagai daerah di Indonesia selalu dijumpai bangunan khas untuk budidaya burung berliur mahal ini. Animo masyarakat terhadap bisnis ini selain harga sarangnya yang mencapai 25 juta/kg, juga pangsa pasar yang semakin cerah. Sarang wallet ini dikonsumsi sebagai makanan kesehatan!!!

http://www.waletsemberani.com 

 

ADANYA SENTUHAN TEKNOLOGI
Aspek penting dalam pengelolaan budidaya wallet secara moderen adalah digunakannya teknologi suara burung wallet. Burung wallet adalah termasuk jenis burung koloni (berkelompok banyak) sehingga burung wallet lebih yang menyukai gedung yang ramai dengan suara wallet. Oleh karena itu belakangan ini banyak pemilik gedung memasang suara burung walet di gedungnya baik untuk mendatangkan burung walet atau memberikan nuansa suara burung walet dalam gedungnya sehingga burung walet lebih betah. Penggunaan teknologi suara ini lazim digunakan peternak walet di luar pulau indonesia. Sementara diindonesia peternak walet belum memanfaatkan secara optimal teknologi ini. Kecenderungan yang sering terjadi peternak walet diindonesia lebih suka mengandalkan jasa burung sriti sebagai cara menghadirkan walet dengan teknik putar telur, yaitu dengan mengantikan telur sriti dengan telur walet…!!
 

Paket 1 Terdiri 6 CD

cara dasar memelihara walet

Project BPP-01 (Review-1)

Hufff.. memang ternyata bukan persoalan mudah membuat 2 lubang masuk burung pada rumah monyet. Efek keluar masuk burung dari lubang yang satu ke lubang yang lainnya sulit untuk dikendalikan. 

Ukuran rumah monyet yang tidak memungkinkan untuk membuat sekat, menjadi sebab utama terjadinya efek burung keluar masuk sulit untuk diatasi. pemasangan tweeter tarik pun masih belum dapat menyelesaikan persoalan tersebut.

Dengan ukuran lubang void yang sudah cukup memadai, seharusnya secara logika tidak lagi menjadi hambatan bagi burung untuk turun. Tapi karena adanya 2 lubang masuk yang cukup besar, membuat walet lebih tertarik untuk keluar lagi.

Sebenarnya dengan menutup salah satu lubang masuk burung (LMB), persoalan ini bisa lebih mudah diatasi. Tapi saya tetap menghendaki adanya 2 LMB dan burung juga harus bisa turun melewati lubang void.

Setelah menganalisa dan memperhitungkan kecepatan terbang burung di dalam ruang rumah monyet, maka saya buat sebuah lagu walet dengan menggunakan teknik surround untuk menahan burung agar tidak cepat keluar lagi dan juga untuk menuntun burung turun melewati lubang void.

Dan hasilnya… burung-burung walet pun terbang turun dengan cepat dan mudah.. tanpa ragu-ragu lagi memasuki ruang inap (nesting room).

Tuesday, September 28, 2010

 

Project BPP-01

Salah satu rumah walet di Balikpapan ini, tergolong berada di daerah dekat sentra walet. Namun karena adanya beberapa kesalahan yang tidak sengaja dilakukan, maka rumah walet ini masih saja kosong dari burung dan sarangnya. 

Saat ini sedang dilakukan beberapa perbaikan dan perubahan, agar kondisinya lebih baik dan lebih sesuai untuk burung walet. Dan perkembangan selanjutnya akan di reviev secara berkala di blog ini.

Thursday, March 25, 2010

 

(Seri 3), Merancang rumah walet [II].

Beberapa contoh konsep desain rumah walet. 

Mengadopsi bentuk tata ruang atau desain dari rumah walet yang sudah berhasil, sebaiknya dilihat dulu dari berbagai aspek, seperti:

- Kategori kawasan dan lokasi RBW tersebut.
– Sudah berapa lama RBW tersebut melakukan penangkaran walet hingga sukses.
– Berapa banyak rumah walet sebagai pesaing pada mulanya.
– Berapa besar tingkat kesulitannya dalam masa penangkaran walet.
– dan lain sebagainya.

Kemudian bandingkan dengan situasi dan kondisi daerah rumah walet yang akan kita bina. Pola panen yang diterapkan pun harus diamati.

 

(Seri 2), Merancang rumah walet.

Bentuk rumah walet dewasa ini memiliki beragam model dan desain disebabkan oleh pengaruh dari teknik-teknik pengelolaan yang makin modern dalam mengembangkan kemajuan budidaya walet. 

Secara garis besar, pembagian rumah walet berdasarkan antara lain pada:
– Ukuran luas bangunan rumah walet.
– Model polosan atau sekat-sekatan.
– Rumah satu tingkat atau lebih.

Elemen pokok yang terdapat dalam rumah walet antara lain terdiri dari:
– Lubang pintu masuk orang.
– Lubang masuk burung (LMB).
– Lubang antar lantai (LAL) atau Void.
– Lubang antar ruang (LAR).
– Lubang inlet dan outlet udara atau Air Ventilation (AV).

Elemen pendukung yang terdapat dalam rumah walet antara lain:
– Sekat dinding untuk membagi ruang per ruang.
– Lagur atau sirip tempat walet membuat sarang.
– Bak penampung air (kolam air) atau mesin pengabut.
– Sound system.
– Sarang imitasi.
– Fan
– Mechanical & Electrical (ME).

Pembagian ruangan-ruangan di dalam rumah walet antara lain:
– Adaptation Room (AR)
– Roving Room (RR).
– Nesting Room (NR).
– Equipments Room (ER).
– Extra feeding production room (EFR).

Pada prinsipnya, rumah walet dibangun dengan tujuan agar walet mau masuk kemudian menginap dan betah untuk tinggal sehingga pada akhirnya membuat sarang seperti yang diharapkan. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan perencanaan awal yang matang. Idealnya adalah menyiapkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai dengan desain rumah walet yang baik. Bukan sebaliknya, desain rumah walet disesuaikan dengan Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) yang seadanya.
Memaksakan berdirinya sebuah bangunan rumah walet yang seadanya bisa berakibat terjadinya bongkar pasang yang pada akhirnya menjadi suatu pemborosan.

Tidak ada ukuran standar luas bangunan rumah walet maupun model desainnya. Namun meski demikian, prinsip dasar dalam menentukan ukuran luas minimal rumah walet tidak boleh diabaikan. Prinsip dasar ini berdasarkan pada kemudahan-kemudahan yang diperlukan oleh burung walet untuk melakukan manuver terbangnya. Baik secara horizontal maupun kecenderungan terbang secara vertical.

Memberikan kemudahan pada walet untuk melakukan manuver terbangnya bukan berarti harus membuat ruangan selapang-lapangnya. Ruangan yang berukuran relatif besar bisa berakibat burung baru akan sering berpindah-pindah tempat. Walet akan lebih lama menemukan tempat yang cocok untuk membuat sarang. Dan bisa menjadi fragile karena burung akan terpisah-pisah satu sama lain.

Adaptation Room (AR) adalah suatu ruangan yang berfungsi sebagai living adjustment sebelum walet berani melakukan eksplorasi lebih ke dalam dan dapat mencegah walet cepat keluar “tanpa merasa dijebak”. Sebagai ruang perantara atau ruang transisi, maka sifatnya adalah optional. Jika memungkinkan, maka boleh dibuat.

Roving Room (RR) adalah ruang yang pertama kali dijelajahi oleh walet setelah melewati LMB. Sebenarnya tidak ada faktor signifikan yang membedakan antara Roving Room dengan Nesting Room, kecuali bila pada RR tersebut tidak diberikan sarana pendukung seperti pada NR. Dan memberikan perlakuan yang berbeda di antara keduanya, menurut pandangan saya itu adalah sebuah kekeliruan.
Hal ini bisa dilihat pada contoh bentuk desain rumah walet minimalis, dimana RR dan NR menjadi satu dan tidak memiliki lubang antar lantai (LAL). Apabila terjadi pengembangan luas bangunan rumah walet akibat populasi yang mulai padat, apakah perlakuan terhadap ruangan tersebut akan berubah dan berbeda (karena berubah nama menjadi RR) dengan ruangan yang baru dibangun (NR)?
Lantas kenapa pada rumah walet yang sudah mempunyai ruangan RR dan NR yang terpisah sejak awal tidak diperlakukan hal yang sama di antara keduanya?
Karena kebanyakan orang menganggap bahwa RR adalah tempat numpang lewat walet menuju NR.

Nesting Room (NR) boleh dibilang sebagai tempat tujuan akhir setelah walet melakukan eksplorasi terhadap rumah walet. Oleh sebab inilah, maka NR mendapatkan porsi lebih dalam perlakuannya. Segala cara diupayakan di ruangan ini agar walet mau tinggal dan menginap selamanya serta mau membuat sarang seperti yang diharapkan semua penangkar walet. Di ruangan ini pula segala aplikasi yang diterapkan diamati dengan seksama. Mulai dari pola nesting plank dan bahan material yang dipakainya, suara walet yang dibunyikan, sampai dengan perubahan iklim mikro yang terjadi di dalamnya.

Equipments Room (ER) adalah ruang yang digunakan untuk menyimpan segala peralatan yang berkaitan dengan pengelolaan rumah walet, seperti; peralatan untuk panen sarang walet, sound system, dan alat-alat lainnya agar tidak mudah rusak karena pengaruh kelembaban yang tinggi.

Extra feeding production room (EFR) dipersiapkan bila ada rencana untuk memproduksi sendiri serangga yang diternak sebagai makanan tambahan bila memasuki musim kemarau.

Lubang masuk burung (LMB) adalah termasuk elemen yang terpenting dari rumah walet. Merencanakan ukuran dan posisi peletakan LMB tergantung pada lokasi dan desain rumah walet itu sendiri. Seperti pada lokasi yang bebas dari predator pemangsa walet (seperti burung hantu) bisa dibuat dengan ukuran yang relatif lebih besar.
Untuk mengetahui posisi peletakan LMB yang paling baik, bisa dibuatkan LMB pada tiap-tiap sisi dindingnya lebih dahulu. Setelah mengetahui posisi LMB yang paling efektif dimasuki burung walet, maka lubang-lubang lainnya dapat ditutup kembali.
Apabila terdapat lebih dari satu LMB yang sama-sama efektif, maka perlu disesuaikan kembali desain tata ruangnya agar tidak terjadi “kebocoran”. Kebocoran yang dimaksud di sini adalah burung yang masuk dari LMB yang satu, tidak cepat keluar lagi lewat LMB yang lain. Jika penyesuaian desain tata ruang tidak memungkinkan, maka sebaiknya dipilih satu saja LMB yang terbaik.

Lubang antar lantai (LAL) adalah bagian dari salah satu elemen rumah walet yang menghubungkan ruang pada lantai yang satu dengan ruang pada lantai yang lainnya. [Baca: Antara Lubang Masuk Burung (LMB) dan Lubang Antar Lantai (LAL).]
Lubang antar lantai (LAL) pada rumah walet bertingkat, ukuran dan posisinya ditentukan oleh ukuran ruangan tersebut dan ketinggian plafondnya.
Dibandingkan dengan LMB, maka LAL mempunyai kelemahan bila dilihat dari sisi kemudahan walet melakukan manuver terbangnya. Tanpa elemen pendukung, maka walet-walet baru yang melakukan eksplorasi di tempat tersebut akan relatif lama beradaptasinya. Penggunaan suara walet dan pemasangan tweeter yang tepat adalah elemen pendukung yang paling tepat untuk menuntun walet-walet baru tersebut menyusuri dan melewati LAL.

Lubang antar ruang (LAR) adalah bagian yang lain dari elemen rumah walet yang menghubungkan ruang yang satu dengan ruang yang lainnya pada satu lantai yang sama. LAR bisa dibuat relatif lebih kecil (baca: sempit) ukurannya daripada LAL karena cara manuver terbangnya yang sama seperti ketika memasuki LMB.

Lubang inlet dan outlet udara atau Air Ventilation (AV) adalah lubang-lubang kecil yang dibuat pada dinding untuk keperluan mengatur keseimbangan kondisi suhu dan kelembaban di dalam rumah walet agar sesuai dengan habitat walet.
Fungsi lain dari Lubang ventilasi adalah dapat menciptakan pola aliran udara sedemikian rupa di dalam rumah walet, sehingga dapat membantu mengarahkan burung masuk lebih ke dalam. Oleh karena itu jumlah lubang udara (AV) sangat relatif, tergantung pada kebutuhan yang disesuaikan dengan desain rumah waletnya.

Sekat dinding dibutuhkan pada rumah walet yang berukuran cukup besar sebagai pembatas/pemisah ruangan. Sekat-sekat ini bukan hanya sekedar untuk membagi ruang per ruang, tetapi juga berfungsi untuk menstabilkan suhu dan kelembaban di dalam rumah walet, mencegah terjadinya cross ventilation, mengurangi intensitas cahaya yang masuk, meredam polusi suara dari luar rumah walet, mempermudah burung menghapal tempat sarangnya, dan lain sebagainya.

Lagur atau sirip merupakan sarana tempat walet membuat sarang. Penataan polanya mengikuti tata ruang rumah walet yang ada. Lagur ini bisa dibuat dari beberapa bahan material, seperti; kayu, beton cor, aluminium, dan lain sebagainya. Lebarnya mulai dari 12cm hingga 20cm. Jarak antar lagurnya pun bervariasi, mulai dari 20cm hingga 50cm.
Pola pemasangan nesting plank sangat beragam, namun yang paling umum dipakai peternak walet adalah model kotak-kotak (kotak tahu) dan model garis-garis sejajar. Ada juga pola model piramid terbalik atau model susun anak tangga terbalik.
Apapun bahan material dan bentuk modelnya, nesting plank harus memiliki sifat yang kokoh, kasar permukaannya dan tahan lama. Untuk mempercepat dan mempermudah burung-burung muda belajar membuat sarang untuk pertama kalinya, maka sebaiknya diberikan sarana tambahan pada nesting plank tersebut berupa sarang buatan (imitasi) atau potongan dari styrofoam atau apapun yang dapat menjadi dudukan pondasi awal sarang walet. Bisa juga dibuatkan alur (groove) pada nesting plank tersebut.
Treatment pada nesting plank akan menentukan berhasil tidaknya pengembangan populasi di kemudian hari.

Bak penampung air (kolam air) atau mesin pengabut sangat membantu untuk menaikkan kadar air di udara pada rumah walet di kawasan beriklim panas. Kelembaban (RH) yang mencapai kestabilan ideal sangat mempengaruhi walet dalam membuat sarangnya. Terlalu kering atau terlalu lembab akan menyulitkan walet membuat sarang. Selain itu juga akan berakibat menurunkan grade sarang.

Sound system saat ini sudah menjadi jantung dalam budidaya walet. Bahkan boleh dibilang, tanpa ada sound system di rumah walet maka bukanlan sebuah rumah walet. Demikian penting perannya, sehingga elemen pendukung yang satu ini banyak mendapatkan porsi perhatian yang paling besar, sehingga kemajuan perkembangannya dalam teknik dan aplikasinya sangat pesat. Mulai dari yang konvensional sampai yang modern. Mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Maka bila kita berbicara soal sound system dan suara walet, tentunya akan menyita waktu yang sangat panjang dan seolah-olah tidak ada habisnya.

Pengalaman panjang saya mengamati suara walet selama bertahun-tahun belum tuntas hingga kini. Selalu ada yang baru dan baru terus. Awal mula saya mengenal penggunaan sound system dalam dunia perwaletan masih dengan sistem suara mono. Maksudnya, lagu suara walet yang digunakan untuk suara panggil (suara luar) sama jenis lagu suaranya dengan suara untuk di dalam rumah walet (suara inap). Kemudian maju setahap lebih maju, yaitu lagu suara walet untuk memanggil walet berbeda dengan lagu suara walet untuk membuat walet mau menginap. Perkembangan berikutnya adalah, lagu suara panggil memakai dua lagu suara walet yang berbeda, begitu juga untuk suara inap memakai sedikitnya dua macam lagu suara walet.

Dan belakangan ini, teknik tata suara walet sudah memanfaatkan teknik surround. Aplikasi teknik surround dalam dunia perwaletan berbeda dengan aplikasi teknik surround seperti dalam home theater. Dalam dunia walet, tidak dibatasi oleh sistem 5.1 atau 7.1, tetapi bisa mencapai belasan bahkan puluhan tweeter. Tergantung kesanggupan sang composer dalam membuat lagunya. Hal ini memang masih baru dan belum lazim diterapkan dalam dunia budidaya walet.

Dibandingkan dengan sistem tata suara walet yang sederhana, tentu saja sistem tata suara walet dengan menggunakan teknologi surround akan memiliki selisih yang jauh dalam hal besarnya biaya. Tingkat kesulitan dalam pembuatannya pun juga jauh lebih rumit. Sebandingkah efektifitas yang dihasilkannya? Hal ini pun belum pernah dipublikasikan. Bagi penangkar walet yang merasa “sudah puas” dengan apa yang ada, tentu teknik tata suara walet seperti ini tidak akan diminati.

Wednesday, March 24, 2010

 

(Seri 1), Tahap awal memulai budidaya walet.

Kali ini saya ingin menulis secara berseri, hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan mengelola budidaya walet. Mungkin tidak terlalu detil tapi mudah-mudahan bisa bermanfaat. 

Dengan memilih lokasi dan kawasan yang memiliki prospek ke depan yang lebih bagus, maka penangkaran walet jangka panjang dapat menjadi lebih aman.
Lokasi bagus bukan sekedar dilihat dari populasi burung walet yang besar.
– Populasi banyak tapi miskin dengan koloni burung-burung walet yang muda, akan membuat kita frustrasi dalam memancing walet.
– Populasi besar tapi di tempat yang kompetitornya banyak juga akan menguras energi, waktu dan modal yang lebih besar dalam mencapai keberhasilan.
– Populasi banyak namun berada di kawasan yang mudah mengalami proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi (pemanasan global atau Global Warming) akan menyebabkan burung-burung walet relatif lebih cepat bermigrasi ke tempat yang lebih sesuai dengan habitatnya.

Kawasan yang memiliki ekosistem yang sesuai dengan habitat walet dan terjaga keseimbangannya adalah hal yang sangat perlu untuk dipertimbangkan. Bahwa dengan extra feeding treatment memang bisa dilakukan untuk kawasan yang mulai menipis sumber pakannya namun merupakan pekerjaan tambahan yang perlu dipikirkan matang-matang. Hal ini bukan perkara mudah karena membutuhkan perhatian dan pekerjaan ekstra yang harus ditekuni.
Selain itu perlu dipikirkan pula, berapa persen dari jumlah serangga hidup hasil dari serangga ternakan yang bisa dimakan oleh walet dan berapa persen sisanya yang terbuang dan menjadi hama nantinya di lingkungan sekitar rumah walet. Dibutuhkan teknik yang benar-benar tepat dan aman untuk melakukan extra feeding treatment dengan menernak serangga.

Jika memungkinkan, menghindari daerah “perang suara” adalah pilihan yang lebih baik. Menangkarkan walet di daerah perang suara, harus berbekal banyak pengetahuan tentang ilmu menangkarkan walet terutama hal-hal yang berkaitan dengan suara walet. Tidak cukup hanya mempunyai lagu suara walet yang efektif saja, teknik tata suara pun menjadi modal besar yang harus dimiliki untuk perang strategi dalam perebutan menarik burung-burung walet muda. Dukungan dari tata ruang yang unik serta kestabilan iklim mikro rumah walet juga sangat mempengaruhi keberhasilan merumahkan walet.

Hal-hal tersebut di atas adalah bagian dari langkah-langkah awal yang perlu dipikirkan dan dipertimbangkan, agar dikemudian hari tidak menyulitkan dan menyusahkan kita dalam menangkarkan walet.

Monday, March 22, 2010

 

Antara Lubang Masuk Burung (LMB) dan Lubang Antar Lantai (LAL).

Lubang antar lantai atau yang sering disingkat dengan sebutan LAL, sering menjadi perhatian karena banyaknya kasus yang ditimbukannya, seperti; walet susah turun atau cahaya matahari yang terlalu banyak masuk dan lain sebagainya. 

LAL dibuat dengan tujuan agar walet dapat mengakses daerah atau ruangan yang tidak memiliki fasilitas lubang masuk burung (LMB). Jadi LAL menggantikan fungsi LMB di dalam rumah walet. Bedanya, pada LMB burung walet masuk dengan cara terbang horizontal, sedang terhadap LAL burung walet masuk cenderung dengan cara terbang membentuk sudut kemiringan (tergantung pada tinggi plafond, ukuran luas LAL dan kedalaman LAL itu sendiri). Seperti pada lubang yang berbentuk corong, maka akan memaksa walet masuk dan keluar dengan cara terbang vertikal.

Mana yang lebih mudah bagi burung walet, terbang secara horizontal (seperti ketika memasuki LMB) atau terbang dengan cara menukik (seperti saat melewati LAL)?
Jika walet lebih mudah masuk melalui LMB, mengapa hampir semua rumah walet hanya menggunakan LMB pada satu lantai saja dan untuk lantai-lantai yang lainnya menggantikannya dengan LAL?

Apakah bila dibuatkan LMB pada setiap lantainya akan lebih sulit dalam mengembangkan populasi waletnya di tiap-tiap lantainya dibandingkan bila menggunakan LAL?
Apakah pada setiap desain rumah walet bertingkat harus menggunakan LAL?
Bagaimana seharusnya LAL dibuat dan ditempatkan? Berapa ukuran luas yang semestinya?
Lebih maksimal mana populasi walet yang bisa ditampung antara rumah walet yang menggunakan LAL dengan rumah walet yang tidak menggunakan LAL?

Cobalah dibuat perbandingan antara keduanya mana yang lebih banyak memiliki keunggulan, rumah walet dengan LAL di tiap-tiap lantainya atau rumah walet dengan LMB di tiap-tiap lantainya?

Tuesday, March 16, 2010

 

Langkah terbaik mengelola rumah walet.

Makin sering “kasak-kusuk” soal rumah walet, akan makin membingungkan..
Apalagi setelah lihat-lihat rumah walet lain yang beraneka ragam bentuk dan perlakuannya.. yang rata-rata termasuk relatif sukses juga. 

Ada yang bentuk rumah waletnya polos tanpa sekat di sana-sini dan pasang tweeternya puluhan (mendekati ratusan) tapi hasilnya ya cukup banyak burung waletnya. Padahal kalau seandainya saya dikasih suara waletnya, mungkin akan saya simpan di laci meja saya saja.
Sebaliknya, yang banyak memiliki sekat-sekat pada rumah waletnya juga tidak sedikit yang sukses.

Ada yang tidak peduli dengan syarat ideal suhu dan kelembaban di dalam rumah walet.. bahkan yang namanya hygrometer itu seperti apa aja ga pernah tahu.. tapi ya rumah waletnya boleh dibilang sukses.

Ada juga yang pasang tweeter cuma 2-3 buah.. dan suaranya pun suara walet yang sudah jadul, tapi ya sukses juga..

Begitu banyak perbedaan-perbedaan dalam mengelola sebuah rumah walet, yang bahkan satu sama lain tekniknya bisa bertolak belakang.. tapi kok sama-sama memiliki keberhasilan yang relatif memuaskan si pemilik rumah walet.

Jadi.. teknik mana yang sebenarnya bisa kita jadikan acuan?

Ada kecenderungan besar yang saya lihat dari kebanyakan pelaku budidaya walet, yaitu menjadi plagiator.. meniru sebagian atau keseluruhan dari rumah walet yang telah terbukti sukses (sebagai sebuah cara atau jalan pintas, dengan harapan cepat mendapat hasil yang sama).
Kalau hal ini ditanya salah atau tidak (di luar konteks hukum).. maka tergantung pada hasil yang dicapainya.. sukses atau gagal? Kalau rumah waletnya kemudian gagal, ya pada akhirnya menjadi salah. Pada kasus rumah walet “kembar siam” sekalipun tidak ada jaminan memiliki hasil yang relatif sama.

Yang jauh lebih penting adalah memahami karakter rumah walet milik kita sendiri secara keseluruhan. Sehingga ketika kita mengadopsi cara-cara dan atau teknik pengelolaan dari rumah walet lain yang telah sukses, kita dapat menyesuaikannya dengan tepat dan benar.

Jadi.. langkah terbaik mengelola rumah walet adalah mengenali dan memahami terlebih dulu dengan sebaik-baiknya rumah walet kita sendiri, sebelum melakukan treatments khusus maupun yang bersifat umum (baik dari cara mengadopsi teknik orang lain maupun dari cara trial & error).

Friday, January 22, 2010

Improvisasi dan inovasi pelaku budidaya walet.

Berkembangnya teori-teori baru tentang bagaimana merumahkan walet yang jitu.. cepat.. sungguh menambah wawasan dan nuansa baru yang menyegarkan dunia perwaletan sekaligus menambah kebingungan para peternak walet, khususnya mereka yang baru mulai menggeluti dunia walet.

Seribu konsultan, punya seribu aturan..
seribu praktisi, menciptakan seribu teori..
seribu saran, jadi seribu pikiran..
yang pada akhirnya melahirkan seribu trial & error..
Dengan seribu paradigma tersebut menjadikan dunia perwaletan tak ubahnya seperti sebuah karya seni, yang diikuti dengan timbulnya berbagai macam aliran dan kiblat.

Dalam mengelola dan mengembangkan sebuah rumah walet, sedikit sekali adanya batasan-batasan khusus dan aturan-aturan baku yang standar. Oleh karena itu untuk mengembangkannya dibutuhkan inovasi dan improvisasi dari sang pengelola rumah walet.

Improvisasi seorang pelaku budidaya walet harus memahami ilmu tentang walet sebelum berpikir inofative. Improvisasi akan berkembang dengan baik bila faktor kualitas kemampuan manusianya sudah mencukupi. Dan dibutuhkan sebuah kerangka yang terkonsep dengan baik, benar dan tepat guna melahirkan dinamika bagi terciptanya sebuah gagasan beserta segala kemungkinan-kemungkinan barunya, yang pada akhirnya dapat diaplikasikan secara tepat dan membuahkan hasil yang maksimal.

Dengan demikian diharapkan pelaku budidaya walet sekarang ini sadar dan bisa memahami kondisi saat ini, agar lebih maju dan lebih modern.. baik dari sisi cara berpikirnya maupun dari sisi penerapan teknologinya dibandingkan dengan senior-senior pelaku budidaya walet sebelum kita. from walet semberani team.

WALET NGRAHO

1 http://waletsemberani.wordpress.com
2. Komunitas Dunia Maya
3. Nofita
4. Ququy
5. Informasi Terbaru
6. Raden Somad
7. Terbaru 2011
8. IN MY COMPUTER
9. Antena Bugil
10.Beruetz Blogger

Sumber : http://apasihberuetz.blogspot.com/2011/01/cara-cepat-menaikkan-pagerank-blog.html#ixzz1Ci03jgps

walet.walet.walet tips

Teknik Memikat Walet

by SEMBERANI AUDIO WALET  Budidaya Walet

Burung walet termasuk burung liar yang sarangnya bernilai tinggi. Namun, meski termasuk burung liar, bukan berarti walet tidak bisa dipanggil untuk menempatkan gedung yang telah disediakan oleh para pebisnis walet. Memancing walet merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk memikat burung walet masuk, berkembang biak, dan bersarang di dalam gedung yang telah disediakan. Ada beberapa teknik umum yang bisa kita praktekkan untuk memancing walet. Di antaranya: Teknik pancing telur atau putar telur. Teknik ini digunakan apabila gedung sudah dihuni oleh burung sriti yang telah bertelur. Segera ganti sarang yang telah berisi telur burung sriti dengan telur burung walet. Diharapkan, burung sriti tersebut bisa menjadi induk asuh bagi piyik walet hingga dewasa. Teknik menggunakan sriti kembang (Hirundo javanica) Teknik ini merupakan hasil penelitian dan eksperimen seorang praktisi walet dari Jawa Tengah, Arief Budiman. Sriti kembang berfungsi sebagai burung pemanggil layaknya CD atau kaset hidup untuk mengundang sriti atau walet. Gerakan sriti kembang yang berterbangan dan aroma kotorannya merupakan pemikat sriti atau walet untuk tinggal bersama di dalam satu gedung. Teknik menggunakan suara Teknik menggunakan suara ini sebenarnya lebih mengacu pada perilaku hidup walet yang berkoloni. Suara tiruan walet diperdengarkan dari dalam gedung, seolah-olah telah ada koloni walet lainnya yang bersarang di sana. Dengan demikian, burung-burung walet yang berterbangan akan terpikat untuk memasuki gedung. Peralatan yang diperlukan dalam teknik ini adalah CD (Compact Disk) atau kaset, CD player atau tape recorder, kabel coaxial, tweeter, amplifier yang dilengkapi filter suara, dan kipas angin. Bahkan, beberapa petani walet sudah ada yang memanfaatkan PC (Personal Computer) sebagai instrumen pemutar suara rekaman digital walet. Teknik menggunakan aroma Teknik ini bisa digunakan dengan memanfaatkan kotoran walet dan cairan air liur walet yang berasal dari perendaman sarang. Aroma-aroma tersebut bertujuan untuk menebarkan bau khas gedung baru agar terkesan telah dihuni koloni walet sehingga mendorong keberanian walet untuk mendiami bangunan tersebut. Teknik menggunakan pakan dan air Walet merupakan burung yang menyukai serangga berukuran kecil dan lunak. Penyediaan pakan tambahan diharapkan memancing kedatangan walet ke gedung baru. Penyediaan serangga di dalam gedung ini dilakukan dengan cara menebarkan jerami di lantai gedung walet atau menimbun bekatul, jagung, gabah, dan gaplek. Di luar gedung, penyediaan pakan dapat dilakukan dengan menanam pohon penghasil serangga, menimbun sampah organik termasuk kotoran ternak, serta menumpuk jerami basah. Keberadaan kolam di sekitar roving area juga dapat memikat walet untuk memasuki gedung. Teknik menggunakan sarang kertas Teknik ini memiliki tingkat keberhasilan mencapai 80%. Metode sarang kertas cenderung diterapkan di gedung yang mulai terisi oleh walet. Sarang imitasi ini dibuat dari kertas duplek yang dibentuk seperti mangkuk menyerupai sarang walet asli. Usahakan, kertas duplek ini jangan sampai tercemar oleh minyak, oli, atau zat kimia lainnya. Sebelum dipasang, sarang-sarang tersebut diberi air liur walet. Dalam radius satu meter dipasang sarang kertas minimal empat buah dengan jarak masing-masing 20-25 cm. Pemasangan dilakukan di sirip-sirip gedung, terutama di sisi yang terlindungi sinar matahari. Teknik memancing burung walet ini ditulis oleh Redaksi AgroMedia Pustaka dalam buku Budi Daya Walet. Melalui buku ini, Redaksi AgroMedia mencoba memberikan informasi-informasi baru sehubungan dengan budi daya walet. Mulai dari cara mendisain bangunan, membuat walet betah tinggal di gedung, kiat menetaskan telur dan merawat anak walet, serta pemanenan dan penanganan pascapanen sarang walet.

mp3 suara walet semberani

suara walet kualitas super SEMBERANI AUDIO WALET

http://www.4shared.com/audio/YgONrdbT/ratu_walet_semberani_demo.html


http://www.4shared.com/account/audio/lvVsQA9J/Walet_63.html

mengenal sejarah & budidaya walet super

Budidaya burung walet

Tinggalkan komentar Go to comments

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung walet dimulai dengan sejarah singkat burung walet, sentra  budidaya burung walet, jenis-jenis burung walet, manfaat burung walet, persyaratan lokasi budidaya burung walet,  pedoman teknis budidaya burung walet, hama dan penyakit burung walet dan lain-lain.

1. SEJARAH SINGKAT

Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.

2. SENTRA PERIKANAN

Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah

3. JENIS

Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : Collacalia
Species : Collacaliafuciphaga

4. MANFAAT

Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.

5. PERSYARATAN LOKASI

Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:

  1. Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
  2. Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
  3. Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
  4. Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

  1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    1. Suhu, Kelembaban dan Penerangan
      Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:

      1. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
      2. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
      3. Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
      4. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
      5. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
    2. Bentuk dan Konstruksi Gedung
      Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10×15 m 2 sampai 10×20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
  2. Pembibitan
    Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.

    1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
      Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
    2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
      Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.

      1. Memilih Telur Walet
        Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :

        • Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
        • Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
        • Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.
          Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai
          kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.
      2. Membawa Telur Walet
        Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup.
        Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan telur tua lebih rendah.
    3. Penetasan Telur Walet
      1. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
        Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
      2. Menetaskan telur walet pada mesin penetas
        Suhu mesin penetas sekitar 40 ° C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15
        hari telur akan menetas.
  3. Pemeliharaan
    1. Perawatan Ternak
      Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
    2. Sumber Pakan
      Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:

      1. menanam tanaman dengan tumpang sari.
      2. budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.
      3. membuat kolam dipekarangan rumah walet.
      4. menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.
    3. Pemeliharaan Kandang
      Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.

7. HAMA DAN PENYAKIT

  1. Tikus
    Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
    Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
  2. Semut
    Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.
    Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
  3. Kecoa
    Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
    Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
  4. Cicak dan Tokek
    Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.
    Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.

8. PANEN

Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Panen rampasan
    Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
  2. Panen Buang Telur
    Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.
  3. Panen Penetasan
    Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.

Adapun waktu panen adalah:

  1. Panen 4 kali setahun
    Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
  2. Panen 3 kali setahun
    Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
  3. Panen 2 kali setahun
    Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.

9. PASCAPANEN

Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA

  1. Analisis Usaha Budidaya
    Perkiraan analisis budidaya burung walet di daerah Jawa Barat tahun 1999:

    1. Modal tetap
      1. Gedung Rp. 13.000.000,-
      2. Renovasi gedung Rp. 10.000.000,-
      3. Perlengkapan Rp. 500.000,-
        Jumlah modal tetap Rp. 23.500.000,-
        Biaya penyusutan/bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bln ( 5 th) Rp. 391.667,-
    2. Modal Kerja
      1. Biaya Pengadaan
        • Telur Walet 500 butir @ Rp. 5.000,- Rp. 500.000,-
        • Transportasi Rp. 100.000,-
        • Makan Rp. 50.000,-
      2. Biaya Kerja
        • Pelihara kandang/bln@ Rp. 5000,- x 3 bln Rp. 15.000,-
        • Panen Rp. 20.000,-
          Jumlah biaya 1x produksi:Rp. 650.000,-+Rp. 35.000,- Rp. 685.000,-
    3. Jumlah modal yang dibutuhkan pada awal Produksi
      1. Modal tetap Rp. 13.500.000,-
      2. Modal kerja 1x Produksi Rp. 685.000,-
        Jumlah modal Rp. 14.185.000,-
    4. Kapasitas produksi untuk 5 tahun 1 kali produksi :
      1. sarang burung walet menghasilkan 1 kg
      2. sarang burung sriti menghasilkan 15 kg
      3. untuk 1 tahun, 4 kali produksi, menghasilkan :
        • sarang burung walet 4 kg
        • sarang burung sriti 60 kg
      4. untuk 5 tahun, 20 kali produksi, menghasilkan :
        • sarang burung walet 20 kg
        • sarang burung sriti 300 kg
    5. Biaya produksi
      1. Biaya tetap per bulan : Rp. 23.500.000,-:60 bulan Rp. 391.667,-
      2. Biaya tidak tetap Rp. 685.000,-
        Total Biaya Produksi per bulan Rp. 1.076.667,-
        Jumlah produksiRp.1.076.667:16 kg (walet dan sriti) Rp. 67.292,-
    6. Penjualan
      1. sarang burung walet 1 kg Rp. 17.000.000,-
      2. sarang burung sriti 15 kg Rp. 3.000.000,-
        Untuk 1 kali produksi Rp. 20.000.000,-Untuk 5 tahun

        1. sarang burung walet 20 kg Rp. 340.000.000,-
        2. sarang burung sriti 300 kg Rp. 60.000.000,-
          Jumlah penjualan Rp. 400.000.000,-
    7. Break Even Point
      1. Pendapatan selama 5 Tahun Rp. 400.000.000,-
      2. Biaya produksi selama 5 th Rp. 1.076.667 x 60 bln Rp. 64.600.000,-
      3. Keuntungan selama 5 tahun Rp. 335.400.000,-
      4. Keuntungan bersih per produksi 335.400.000 : 60 bln Rp. 5.590.000,-
      5. .BEP 232.919
    8. Tingkat Pengembalian Modal 3 bulan (1 x produksi)
  2. Gambaran Peluang Agribisnis
    Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intens

CARA-CARA DASAR rumah hunian walet

Kesalahan umum & fatal:

Pada umumnya orang-orang memiliki suara walet dengan membeli cd/usb/memory. Hasilnya belum tentu secara pasti cd/usb/memory yang berisi suara walet benar-benar cocok/disukai oleh walet dimana gedung itu didirikan. Pertama suara cd/usb/memory dinyalakan walet ramai berdatangan tapi tidak lama burung walet pergi (bubar) dan tetap tidak berkembang, karena penasaran dan juga tertarik penawaran membeli cd/usb/memory hingga ratusan suara, semua ini salah langkah. Karena suara yang dihasilkan belum tentu semuanya disukai walet, ciri-cirinya walet datang ramai tapi tidak lama pergi, terbang tinggi atau memutar gedung, lama kelamaan walet akan bosan dan tidak membawa hasil, membuang waktu & biaya perawatan.

Metode dan teknologi raja walet untuk memanggil dan menginapkan walet berbeda dengan cara-cara orang umum. Metode raja walet dijamin berhasil dan pasti menambah populasi dan bisa dibuktikan bersama dilokasi gedung walet. Suara yang dihasilkan lama disukai oleh burung walet dan membuat walet menginap secara berkelompok. Tidak perlu sampai ratusan suara cd/usb/memory yang hanya membuang uang percuma.

Lingkup Usaha Raja Walet :

  • Menjual dan memproduksi peralatan modern untuk menciptakan suasana yang nyaman bagi walet.

  • Menjual dan memproduksi bibit ribuan serangga untuk makanan walet.

  • Menjual dan memproduksi parfum untuk menambah populasi walet.

  • Menjual dan memproduksi peralatan-peralatan untuk suhu dan kelembaban yang ideal bagi walet.

  • Menjual dan memproduksi alat-alat untuk mengatasi hama tikus, tokek, burung hantu, pencurian secara canggih dan modern.

  • Menjual dan memproduksi obat-obatan untuk mengatasi hama-hama pada sirip-sirip dan lantai gedung walet (kutu busuk, laba-laba, cicak, kecoa, kepinding, dll).

  • Menerima dan mengatasi gedung-gedung walet yang kosong atau yang tidak berkembang secara professional, modern, dan pasti berhasil.

  • Memberikan konsultasi secara gratis dengan perjanjian waktu.

  • Menerima dan membuat pesanan alat-alat khusus sesuai yang diinginkan pemilik gedung atau pakar walet dll.

  • Menerima setting suara untuk memperbaiki kualitas suara panggil dan suara inap yang pasti dan nyata gedung menjadi ramai didatangi walet & banyak diinapi walet (teknologi terkini dan tiada dua-nya, sudah terbukti dengan kesaksian-kesaksian).

    Kunci dari keberhasilan ini semua tidak lepas dari :

    1. Penjaga gedung yang rajin

    2. Pemilik gedung yang kooperatif & keamanan yang ketat

    3. Pemberian pakan ribuan serangga secara kontinyu

    4. Penyemprotan parfum-parfum yang kontinyu dan mutu serta kualitas parfum tersebut nyata hasilnya seperti terlihat pada jumlah sarang pada gambar dan video di atas

    5. Suara yang dipakai pada gedung ini benar-benar luar biasa karena memakai suara walet dari hasil setting langsung yang disesuaikan dengan kondisi gedung tersebut, bukan dari CD yang dibeli dari sembarang tempat dan CD yang coba-coba.

    KEBERHASILAN BUDIDAYA WALET SEPERTI VIDEO DI ATAS KARENA PRODUK-PRODUK DARI RAJAWALET YANG LENGKAP, MODERN, CANGGIH, EFEKTIF, IDEAL MENCIPTAKAN HABITAT WALET DI GEDUNG WALET SEPERTI:

    1. ALAT DIGITAL PENGENDALI SUHU DAN KELEMBABAN SECARA KONTINU DAN SETIAP SAAT

    2. ALAT DAN METODE JUTAAN SERANGGA DI DALAM / LUAR GEDUNG WALET.

    3. TEKNIK DAN PERALATAN MENGATASI SERANGAN HAMA-HAMA SECARA AMAN, MODERN, MUDAH DAN TERPADU.

    4. TEKNOLOGI USB PLAYER YANG MODERN DISESUAIKAN DENGAN FREKUENSI WALET DAN SUARA WALET ALAMI YANG BISA MEMIKAT BURUNG SECARA DRASTIS DAN MENAMBAH POPULASI.

    5. TEKNOLOGI DAN PROGRAM SUARA UNTUK MENDAPATKAN SUARA TIRUAN WALET YANG NYATA DAN EFEKTIF, DISUKAI OLEH WALET.

    6. TEKNOLOGI INFORMASI DATA SECARA DIGITAL LANGSUNG KE PEMILIK GEDUNG BERBASIS HP ATAU KOMPUTER YANG MENGIRIMKAN DATA KONDISI GEDUNG, PERALATAN-PERALATAN, KELEMBABAN DAN SUHU, WALET/SARANG SECARA KONTINU TANPA HARUS HADIR DALAM GEDUNG.

    7. SISTIM SCURITY GEDUNG WALET BERBASIS PADA HP SELULER ATAU KOMPUTER YANG MEMANTAU SEPANJANG HARI, SEPANJANG TAHUN.

    8. DLL

    SEMUA PRODUK RAJAWALET MERUPAKAN SATU KESATUAN YANG TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DAN SALING MENUNJANG UNTUK KEBERHASILAN DAN KESUKSESAN BUDIDAYA WALET SECARA DRASTIS, EFISIEN DAN PASTI.

    RAJAWALET ADALAH KONSULTAN, PRODUSEN PERALATAN MODERN UNTUK KESUKSESAN BUDIDAYA WALET

    MENGENAL PRODUK-PRODUK RAJAWALET ADALAH GERBANG KESUKSESAN BUDIDAYA WALET.

    (LIHAT PRODUK-PRODUK WALET SEMBERANI)

Cara Membuat Sarang Burung Seriti dan Meraup Jutaan Rupiah dari Sarangnya

Sumber: www.AnneAhira.com

Di sebuah situs internet pernah ada yang pasang iklan seperti ini ”menerima jual beli sarang burung walet dan seriti partai besar (rumah-gua-rumput laut-ijuk-pinus dll). Hubungi pengepul sarang burung terbesar di….” Tercantum juga nama juragan pengepul dan nomer HP-nya. Ini serius. Satu bukti bahwa sarang burung Seriti memang bisnis yang menguntungkan. Sarang burung Seriti yang telah bercampur liur itulah yang laku dengan harga jutaan rupiah per kilogramnya.

Cara merumahkan burung Seriti memang tidak segebyar sarang si emas putih alias sareng Walet yang 100% berasal dari liur burung tersebut. Namun demikian jika ditekuni dengan serius, meraup uang jutaan dari hasil menjual sarang burung Seriti akan didapat dengan gampang.

Ada anggapan yang berkembang di masyarakat sejauh ini bahwa datangnya burung Seriti semata karena pulung atau keberuntungan. Padahal – seperti juga burung Walet – Seriti juga masih bisa dirumahkan. Seorang yang telah berhasil merumahkan burung Seriti berbagi tips untuk Anda. Ini benar-benar berbagi pengalaman, bukan semata berbagi teori seperti yang banyak ditulis dalam buku-buku praktis kewirausahaan.

Dibanding dengan merumahkan burung Walet, merumahkan burung Seriti justru lebih mudah. Namun karena berbagai kendala yang tak bisa diatasi, yang muncul hanya kegagalan dan kegagalan. Dengan demikian yang tertangkap oleh masyarakat umum adalah merumahkan burung Seriti sebagai pekerjaan yang sangat sulit. Padahal saat ditilik dari peluang usaha, merumahkan burung Seriti sebagai ladang usaha yang sangat menjanjikan.

Berbeda dengan burung Walet yang sangat pilih-pilih untuk dijadikan tempat menetapnya, burung Seriti lebih mudah bergaul. Dalam menentukan tempat untuk menetapnya pun lebih gampang, sepanjang tidak terlalu mengganggu kebiasaan-kebiasaannya. Di bawah ini akan dipaparkan persiapan-persiapan jika memang mau merumahkan burung Seriti.

Sarang yang akan dijadikan tempat menetap burung Seriti sebaiknya lebih banyak mengandung kapur daripada semen. Unsur kapur ini dimaksudkan agar suhu udara di dalam ruangan tidak mudah panas. Karena suhu ruangan ini dianggap elemen paling sensitif buat burung Seriti.

Kalau memang sarang dipersiapkan atau dibangun sejak awal, disarankan dalam campuran untuk tembok yakni semen, kapur dan pasir diberi tambahan yakni putih telur. Maksudnya agar bau dalam ruangan tetap tercium agak bau amis. Rupanya bau putih telur ini mirip sekali dengan bau sarang burung Seriti, sehingga akan lebih mengakrabkan manakala burung Seriti datang berkunjung. Dengan demikian kemungkinan burung Seriti menetap akan jauh lebih tinggi.

Luas ruangan yang akan dipergunakan untuk menetap burung Seriti sedikitnya 20 meter persegi. Atap dengan genting tanah liat. Pemilihan bahan atap juga dengan tetap mempertimbangkan suhu udara ruangan. Tidak disarakan menggunakan seng atau asbes, yang bisa mempercepat kenaikan suhu dalam ruangan.

Untuk memancing burung Seriti masuk, disediakan dak pada bagian atas bangunan dengan sistem sirip. Selain disediakan dak, juga rangka kayu diusahakan jangan dihaluskan atau dengan membiarkan kayu berserat dalam aslinya sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk bertengger burung Seriti. Jika burung Seriti mulai senang berlama-lama bertengger, ini indikasi baik bahwa burung tersebut akan gampang untuk menetap dan bersarang.

Dalam jarak tertentu dalam tembok disediakan lubang tempat masuk burung Seriti berukuran 50×20, bagian luarnya dicat hitam, sehingga lubang tersebut akan lebih mudah tertangkap mata burung Seriti. Setiap jarak tiga meter pada dinding disediakan pula lubang sirkulasi udara dari paralop L, sebagai tempat keluar masuk udara.

Di dalam sarang disediakan setidak-tidaknya 1 kolak berukuran 1×1 meter sebagai pengontol suhu ruangan. Sebab jika suhu ruangan membuat burung Seriti merasa tidak nyaman, jangan harap burung tersebut akan bisa menetap.

Kalau tidak suka memandang sarang yang tidak bercat, anda bisa mengecetnya dengan menggunakan kapur. Jangan sekali-kali menggunakan cat apalagi yang baunya menyengat. Jika ini tetap dipaksakan, burung Seriti akan menganggap sarang sebagai tempat merumahkan burung tersebut sebagai tempat asing, sehingga akan cepat-cepat kabur.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.